Sejarah Gereja

SEJARAH GKI MANGGA BESAR
PDFPrintE-mail

Profil  GKI  Mangga Besar

Sejarah

Bermula pada saat terjadinya Peristiwa G 30 S / PKI di Jakarta, sekitar tahun 1965.  Dimana situasi pada saat peristiwa itu sangat menegangkan dan mencekam sekali.  Di Jakarta semua orang sangat takut dan tidak berani untuk bepergian kemana-kemana, apalagi untuk pergi beribadah.  Pada saat itu, khusus untuk jemaat yang berdomisili di daerah Mangga Besar,  tempat beribadah paling dekat adalah  di Samanhudi dan Perniagaan ( Salib Tiga ).

Selang beberapa waktu, jemaat-jemaat  yang berdomisili di Manga Besar sangat rindu akan adanya sebuah persekutuan di daerah itu. Faktor keamanan saat itu, sangat mendorong para jemaat untuk mempercepat diadakannya persekutuan tersebut. Sehingga mereka tidak perlu pergi jauh untuk beribadah. Keinginan sebagian jemaat tersebut langsung mendapat respon, dan melalui inisiatif  dari Bpk. Jahja Halim (Lim Oen Som) diadakanlah acara kumpul-kumpul untuk bersekutu bersama dalam Kristus di lingkungan sekitar Mangga Besar. Dimulai dari beberapa orang peserta yg ikut persekutuan tersebut, lama kelamaan seiring berjalannya waktu jumlah Jemaat yang hadir semakin banyak. Maka tercetuslah ide dari seluruh Jemaat yang hadir untuk sesegera mungkin membentuk Pos PI di lingkungan Mangga Besar. Pos PI di Mangga Besar dibuka pada tanggal 7 November 1965, bertempat di rumah keluarga Jahja Halim (Lim Oen Som). Dengan di bukanya Pos PI, persekutuan ini semakin terarah di bawah bimbingan GKI Samanhudi. Pos PI berkembang selama 5 (lima) tahun  dengan semakin banyaknya jemaat yang hadir untuk beribadah.

Berdasarkan tata gereja kita ( GKI ) maka Pos PI  Mangga Besar statusnya naik menjadi Bajem ( Bakal Jemaat )  sekitar tahun 1972. Ketika sudah menjadi Bajem diharuskan  adanya  kepengurusan yang nantinya akan menjalankan operasional organisasi. Pada saat itu pengurus-pengurus bukan di sebut sebagai Majelis, tetapi disebut Panitia Bajem Mangga Besar, yang terdiri dari Ketua, Penulis, Bendahara, Anggota. Kegiatan Bajem semakin berkembang, dan struktur organisasi semakin membaik. Satu hal yang sangat menggembirakan, pada satu waktu kehadiran jemaat di kebaktian minggu mencapai 257 orang. Sungguh luar biasa dan diluar dugaan, hal ini membuat GKI Samanhudi lebih memfokuskan perhatiannya ke Bajem Mangga Besar. Kemudian GKI Samanhudi langsung mengutus tua-tua ibu Lukas Garnadi untuk mengurus Bajem Mangga Besar. Kepengurusan Bajem langsung dibentuk dengan 3 (tiga) pengurus inti, yaitu : tua-tua Bpk. Gunawan Setiadi (Ketua), Jadisastra (Penulis), dan Bpk. Lim Oen Som (Bendahara). Beberapa pendeta GKI yang aktif dalam Bajem Mangga Besar, yaitu Pdt. Em Johanes Loing, Pdt. Em Andar Ismail, Pdt. Em Martin Jonathan, Pdt. Alm Clement Sulaiman, dan Pdt. Em Lily Suryana.

Sekitar tahun 1981/82 banyak sekali desakan-desakan agar Bajem Mangga Besar naik menjadi gereja yang dewasa. Pada saat itu terjadi pergumulan hebat diantara pengurus Bajem, apakah Bajem Mangga Besar bisa menjadi gereja yang dewasa, khususnya dalam hal pendanaan. Setelah mengalami pergumulan yang panjang akhirnya pengurus Bajem mengambil kebijakkan untuk segera mendewasakan. Para pengurus segera bertindak dengan mencari pendeta, karena terbentur dengan pembiayaan maka pada saat itu diambil kesepakatan untuk mencari calon pendeta yang baru lulus dari sekolah STT. Pdt. Alm Clement Sulaiman sangat membantu dalam pencarian calon pendeta dari anak-anak STT, sekitar 7-8 orang dan memberikan pelatihan kepada mereka.

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida