Written by Minggu, 24 Januari 2016
PDFPrintE-mail

BACALAH DAN DENGARLAH

 

Saya dapat membayangkan apa yang terjadi dalam peristiwa pembacaan Taurat pada Hari Raya Pondok Daun ( Nehemia 8:1-19) dan membandingkannya dengan kisah-kisah film silat pada era kekaisaran Tiongkok. Adegan ini di setiap film silat Mandarin hampir sama. Jika seorang pembesar diiringi para pengawal tiba di sebuah rumah atau kerumunan orang banyak, ia turun dari kudanya lalu memerlihatkan meterai kerajaan dan membuka sebuah gulungan surat dan berkata, “Titah Kaisar!” Maka reaksinya semua orang dengan gemetar akan sujud menyembah sampai ke tanah, mereka berteriak, “Hidup tuan ku kaisar, panjang umur, ribuan tahun usia!” Lalu sang utusan itu membuka gulungan titah Kaisar dan membacakan isinya. Mereka yang mendengarnya gemetar oleh karena kehadiran utusan yang membacakan dan titah itu merupakan kehadiran dan suara kaisar itu sendiri. Mereka serius dan gemetar mendengat titah itu oleh karena isinya menentukan hidup dan mati, baik dan buruknya nasib mereka.

 

Pemandangan serupa terjadi ketika Ezra membacakan beberapa bagian dari Taurat di depan pintu gerbang air dari pagi sampai tengah hari (Nehemia 8:4). Umat Israel memandang Ezra yang membawa Taurat merupakan tanda kehadiran Allah sendiri. Pada waktu Ezra membuka kitab itu, semua orang bangkit berdiri. Berbeda cara penghormatan rakyat Tiongkok terhadap kaisarnya, umat Israel menghormati Allah dengan berdiri. Mereka siap mendengar titah TUHAN. Mereka begitu antusias, serius dan gentar ketika berhadapan dengan Sabda Illahi yang sedang dibacakan itu.  Sebab Sabda Illahi itu menentukan baik-buruk, hidup-matinya mereka.

 

Written by Minggu, 15 November 2015
PDFPrintE-mail

MENGHADAP ALLAH DENGAN HATI TULUS

 

“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh,… (Ibrani 10:22). Siapa pun yang membaca bagian ayat ini akan menyimpulkan bahwa ini adalah kalimat ajakan. Marilah kita menghadap Allah… William Barclay mengartikannya, janganlah lupa berbakti. Tentu ada alasan mengapa kita harus menghadap dan berbakti kepada Allah. Setelah panjang lebar – dengan memakai – terminologi keimaman dalam Perjanjian Lama, khususnya Kitab Imamat, penulis Surat Ibrani mempunyai keyakinan iman bahwa Yesuslah Sang Imam Besar, jalan yang hidup menuju kepada ke hadirat Allah. Kita datang menghampiri Allah melalui tabir, yaitu tubuh Kristus.

 

Dahulu, di tempat Mahakudus dalam Bait Suci terdapat tabir untuk menutupi dan membatasi ruang kehadiran Allah. Kalau ada seorang imam besar masuk dan “menghampiri Allah, maka tabir itu harus disingkapkan. Kini, dalam keyakinan iman Ibrani, Tubuh Tuhan Yesus adalah adalah tabir yang menutupi keilahian-Nya. Barulah ketika Tubuh itu dikoyakkan di kayu salib manusia sungguh-sungguh dapat melihat Allah. Sebenarnya, segenap kehidupan Yesus pun adalah wujud kasat mata dari karakter Allah sendiri. Allah yang abstrak kini nyata terlihat dalam diri Yesus. Hal ini pernah dinyatakan Yesus sendiri ketika Filipus menanyakan eksistensi Bapa kepada-Nya. “…Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” (Yohanes 14:9). Namun, baru ketika tubuh Yesus dikoyakkan di kayu salib manusia sungguh-sungguh dapat melihat Allah. Artinya, segenap pelayanan dan kehidupan Yesus menjadi paripurna sebagai Imam Besar dengan mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Sehingga dengan demikian sudah tidak ada lagi tirai, sekat atau pemisah. Kini, manusia diampuni dosanya oleh Darah Anak Domba itu satu kali untuk selama-lamanya. Melihat pengorbanan Sang Imam Besar itu, maka kini penulis surat Ibrani merasa cukup untuk memaparkan “teoritis dokmatis”, kini sebuah alasan logis mengajak umat, termasuk kita, “Marilah kita menghadap Allah…”

 

Written by Minggu, 15 November 2015
PDFPrintE-mail

MENGHADAP ALLAH DENGAN HATI TULUS

 

“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh,… (Ibrani 10:22). Siapa pun yang membaca bagian ayat ini akan menyimpulkan bahwa ini adalah kalimat ajakan. Marilah kita menghadap Allah… William Barclay mengartikannya, janganlah lupa berbakti. Tentu ada alasan mengapa kita harus menghadap dan berbakti kepada Allah. Setelah panjang lebar – dengan memakai – terminologi keimaman dalam Perjanjian Lama, khususnya Kitab Imamat, penulis Surat Ibrani mempunyai keyakinan iman bahwa Yesuslah Sang Imam Besar, jalan yang hidup menuju kepada ke hadirat Allah. Kita datang menghampiri Allah melalui tabir, yaitu tubuh Kristus.

 

Dahulu, di tempat Mahakudus dalam Bait Suci terdapat tabir untuk menutupi dan membatasi ruang kehadiran Allah. Kalau ada seorang imam besar masuk dan “menghampiri Allah, maka tabir itu harus disingkapkan. Kini, dalam keyakinan iman Ibrani, Tubuh Tuhan Yesus adalah adalah tabir yang menutupi keilahian-Nya. Barulah ketika Tubuh itu dikoyakkan di kayu salib manusia sungguh-sungguh dapat melihat Allah. Sebenarnya, segenap kehidupan Yesus pun adalah wujud kasat mata dari karakter Allah sendiri. Allah yang abstrak kini nyata terlihat dalam diri Yesus. Hal ini pernah dinyatakan Yesus sendiri ketika Filipus menanyakan eksistensi Bapa kepada-Nya. “…Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” (Yohanes 14:9). Namun, baru ketika tubuh Yesus dikoyakkan di kayu salib manusia sungguh-sungguh dapat melihat Allah. Artinya, segenap pelayanan dan kehidupan Yesus menjadi paripurna sebagai Imam Besar dengan mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Sehingga dengan demikian sudah tidak ada lagi tirai, sekat atau pemisah. Kini, manusia diampuni dosanya oleh Darah Anak Domba itu satu kali untuk selama-lamanya. Melihat pengorbanan Sang Imam Besar itu, maka kini penulis surat Ibrani merasa cukup untuk memaparkan “teoritis dokmatis”, kini sebuah alasan logis mengajak umat, termasuk kita, “Marilah kita menghadap Allah…”

 

Page 1 of 42

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida