Hal yang sangat aneh kembali dikatakan Suryadharma Ali, Mentri yang katanya melindungi hak-hak umat beragama di Indonesia tanpa melihat agama itu sendiri.

Seperti dikutip jpnn.com, Mentri yang juga Ketua Umum PPP ini nampaknya tak sadar dengan apa yang ia katakan, Ia dengan enteng meremehkan permasalahan yang memperuncing intoleransi umat beragama khususnya dilakukan oleh mayoritas penduduk di negara ini.

Pada wawancaranya saat ditanya terkait masalah GKI Yasmin, yang dihambat oleh Walikota Bogor dan Ormas Islam yang bertopeng 'warga sekitar' dengan menyebarkan isu tanda-tangan warga sekitar yang berujung pada penarikan kembali ijin pembangunan rumah ibadah. Suryadharma Ali hanya menjawab enteng.

"Kalau gereja Yasmin itu karena soal perizinan, yakni soal pengurusan surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Bukan soal agama. Itu sebenarnya perseteruan antara panitia pembangunan gereja dengan Walikota. Salah satu ketentuan mendirikan sesuatu, pasti kan harus ada izin dari tetangga

 

Nyata sekali betapa tidak mengertinya sang menteri ini, walau tak tau secara mendetail ia dengan sok menjelaskan.

"Jadi begini, panitia pembangunan gereja itu kan pernah dapat izin, tapi kemudian dicabut. Begitu dicabut, masuk proses pengadilan hingga sampai ke Mahkamah Agung. Saya tidak tahu persis juga. Tapi yang saya dengar, ada pemalsuan tanda tangan masyarakat sekitar, sehingga izinnya ditarik lagi. Kata panitia gereja, walikota tidak melaksanakan perintah hukum. Kata walikota, dia sudah melaksanakan keputusan MA dan memberi izin. Tapi karena di tengah jalan ada pemalsuan , ya ditarik lagi."

Konyolnya ia mengungkit pernyataan pada 21 September 2010 terkait persentase rumah ibadah di Indonesia yang secara terang-terangan dikatakan bahwa pembangunan gedung gereja melebihi masjid, sebenarnya menggambarkan betapa buruknya ia dalam ilmu berhitung (matematika).

"Kalau pemerintah dituduh membatasi pembangunan rumah ibadah, itu dari mana? Berdasarkan data yang pernah saya baca, pertumbuhan rumah ibadah agama Islam mencapai sekitar 64 persen, agama Kristen Protestan dan Katolik mendapai sekitar 133 persen, agama Budha dan Hindu lebih dari 200 persen." tegasnya.

Jika persentasi yang digemborkan itu diubah menjadi angka maka pembangunan masjid dari tahun 1977 sampai dengan 2004, dari 392.044 menjadi 643.834, sedangkan gereja dari 23,911 menjadi 56,382.

Yang jadi pertanyaan sekarang bagaimana caranya ia berhitung sehingga dengan entengnya ia menilai gereja paling banyak berdiri di Indonesia?.

 

 

Written by Sumber : Suara Pembaruan
PDFPrintE-mail

Romo Franz Magnis Suseno : Radikal dalam Iman, Toleran pada Sesama

 

 

Franz Magnis Suseno atau akrab disapa Romo Magnis sudah genap berusia 75 tahun pada Mei 2011 lalu. Sebagai rohaniawan Katolik dari Ordo Serikat Yesus (SJ), perjalanan hidupnya tidak lepas dari panggilan untuk berkarya untuk Allah dan sesama.

Dia tiba di Indonesia pada Januari 1961 setelah menjalani studi S2 filsafat di Hochschule fur Philosophie di Pullach, Jerman. Alasannya cukup sederhana. Dia merasa hidup dan ilmunya bisa lebih bermanfaat bagi gereja di Indonesia dibandingkan di Jerman.

“Saya tidak pernah berminat kembali ke Jerman. Saya mau tetap di sini, saya merasa bisa dan diterima, maka saya menjalankan semua seluk beluk birokrasi menjadi warga negara Indonesia (WNI) selama tujuh tahun dari tahun 1970 sampai tahun 1977 akhirnya resmi menjadi WNI. Tidak ada alasan khusus, mungkin, karena saya tidak bayar khusus. Tetapi, tidak apa-apa menunggu sedikit lama,” kata Romo Magnis di awal pembicaraan dengan SP di kampus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, baru-baru ini.

Kurun waktu 50 tahun di Indonesia bukan masa yang pendek. Romo Magnis yang juga dikenal sebagai budayawan ini, sudah hidup di Indonesia di bawah kepemimpinan enam presiden sejak Presiden Soekarno berada di puncak kejayaan.

 

 

Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin tidak menggelar kegiatan ibadah Minggu seperti biasa di Jalan K.H. Abdullah bin Nuh, Bogor, Jawa Barat. Pasalnya besok bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha yang dirayakan umat muslim.

"Minggu besok kami memutuskan tidak beribadah. Minggu depan (13 November) dan seterusnya kami akan datang ke Yasmin untuk beribadah secara damai," ujar Ketua Majelis Jemaat GKI, Pendeta Ujang Tanusaputra, Sabtu 5 November 2011.

Menurut dia, dalam pandangan Islam, Idul Adha atau Idul Kurban merupakan momentum saling berbagi antara masyarakat mampu dan tidak mampu, yang merupakan cermin solidaritas antarsesama manusia.

"Kami atas nama jemaat GKI Yasmin mengucapkan turut berbahagia kepada umat muslim yang akan merayakan Idul Adha," kata juru bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging.

Dengan tidak adanya ibadah, lanjut Bona, petugas keamanan dari Satuan Pamong Praja dan Kepolisian Resor Bogor dapat ikut merayakan Idul Adha bersama sanak keluarga.

"Karena mereka tidak melakukan penjagaan di sekitar GKI Yasmin seperti biasanya," ujar dia.

 

 

Page 1 of 6

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida