Sarana Penunjang

REK. GKI  MANGGA  BESAR

 

 Bank BCA

No. Rek: 684 - 029 - 9340

a/n: GKI Mangga Besar

 

Jadwal Kebaktian

KEBAKTIAN UMUM

Minggu - Pk. 08.00 WIB

KEBAKTIAN REMAJA

Minggu - Pk. 10.00 WIB

SEKOLAH MINGGU

Minggu - Pk. 10.00 WIB

KEBAKTIAN DEWASA

Rabu - Pk. 11.00 WIB

PERSEKUTUAN DOA PAGI

Sabtu - Pk. 07.00 WIB

Kegiatan Akan Datang
No events
Gabung Dengan Kami

Member Login
Pastikan Anda selalu LOGIN agar lebih leluasa mengakses Situs ini.....Terima Kasih

Kalender Kegiatan
December 2017
S M T W T F S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6
Tulisan Oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

 

Menjelang libur semester, Eirene, anak kami diberikan tugas PR yang seabreg, banyak sekali! Mulai dari Matematika sampai Fisika, Biologi, PKN sampai Agama. Belum lagi ditambah tugas Sejarah, Bahasa Indonesia, Design Grafis dan tugas-tugas Komputer. Ia bergumam, “Yah, kalau gini caranya buat apa libur, mendingan sekolah aja deh!” Namun, satu per satu, tugas itu dikerjakannya juga sambil menggerutu dan berkelu-kesah. “Ah…,akhirnya selesai juga, lega rasanya!” Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus menjelang ajalNya di kayu salib dengan berkata, “Sudah selesai!” (Yoh.19:30) mempunyai konotasi yang sama dengan uangkapan si Eirene ketika selesai mengerjakan tugas-tugasnya?

 

“Sudah selesai!” Banyak orang memahaminya sebagai sebuah ungkapan lega karena perjuangaan berhadapan dengan penderitaan sudah berlalu. Seorang yang sedang menghadapi penderitaan hebat karena sakit kankernya akan berharap segera penderitaan itu berakhir. Terkadang pasien-pasien seperti ini sering minta didoakan agar segera cepat dipanggil Tuhan. Sudah selesai! Atau orang-orang yang terhimpit dengan kesulitan ekonomi, pendapatan tidak menentu sementara kebutuhan hidup terus meningkat akibatnya memilih untuk menyelesaikannya dengan jalan pintas. Kasus-kasus bunuh diri atau membunuh orang untuk merebut hartanya merupakan cara yang dipandangnya logis untuk menyelesaikan masalah.

 

Tetelestai!” kata itulah yang diucapkan Yesus menjelang ajalNya. Tetelestai  berasal dari kata “telos”, yakni akhir yang merangkum perjalanan dari awal, yang memberi arti pada semua yang telah dilakukanNya. Rasanya Yesus hendak mengatakan, “Kini sudah terlaksana sampai utuh, paripurna!” Dalam bahasa Latin kata itu dituliskan “comsummatum est” berasal dari kata comsummare (dengan dua “m”). Comsummare berasal dari: con + summa: “merangkum semua jadi utuh. Kata itu bukan comsumare dengan satu “m” yang mempunyai arti “menghabiskan” (makanan, waktu, uang) yang ada hubungannya dengan konsumsi. Kata yang terakhir ini biasa kita dengar ketika seseorang telah lama mengidam-idamkan sesuatu kemudian kesampaian. Orang Jawa mengungkapkannya dengan kalimat, “Ya wis klakon.” Jadi ketika Yesus mengucapakan, “Tetelestai!” (sudah selesai) itu berarti apa yang telah dikerjakan selama hidupNya sampai berujung di kayu salib, merupakan ungkapan syukur atas seluruh penggenapan nubuat dalam Perjanjian Lama.

 

Hampir semua agama atau kepercayaan mempunyai ritual puasa. Puasa dipahami sebagai salah satu bentuk kesalehan. Namun, sayang, melalui puasa kebanyakan manusia lebih senang dipandang sebagai orang saleh yang sedang melakukan ibadah tinimbang memaknai ritual itu sebagai salah satu cara mendekatkan diri kepada Yangkuasa.

Puasa, bukanlah hal asing dalam Alkitab. Kata Ibrani untuk “puasa” adalah tsum, tsom, dan ‘inna nafsyό, banyak dijumpai dalam Perjanjian Lama, arti harafiahnya: merendahkan diri dengan berpuasa. Jika berkaca pada Perjanjian Lama, ada beberapa makna dibalik ritual puasa, antara lain:

 

  1. Adalah bukti lahiriah ungkapan dukacita(I Samuel 31:13; 2 Samuel 1:12; 3:35; Nehemia 1:4; Ester 4:3; Mazmur 35:13-14). Ayat-ayat di atas mencataat puasa sebagai cara untuk mengungkapkan dukacita karena kematian kerabat atau kondisi bangsa yang sedang mengalami penderitaan. Tentu di dalam suasana dukacita, puasa tidak dimaksudkan untuk menyiksa diri melainkan tetap memohon pertolongan dan belaskasihan dari Tuhan. Lamanya puasa tergantung perkabungan dan dukacita yang sedang dirasakan oleh seseorang atau umat. Bisa tujuh hari (I Sam 31:13) atau beberapa hari (Neh.1:4).

  2. Pernyataan Pertobatan (I Samuel 7:6; I Raja-raja 21:27; Nehemia 9:1-2; Daniel 9:3-4; Yunus 3:5-8). Ayat-ayat ini menggambarkan pertobatan perorangan (I Raja 21:27: Penyesalan Raja Ahab), maupun umat atau bangsa atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Biasanya puasa pernyataan bertobat ini disertai dangan mengenakan pakaian kabung dan abu di kepala. Kitab Yunus menggambarkan puasa pertobatan dengan sangat gamlang. Pemberitaan yang disampaikan Nabi Yunus kepada bangsa Niniwe, bahwa jika bangsa itu tidak bertobat mereka semua akan dihukum. Lalu raja Niniwe memerintahkan semua rakyat beserta hewan ternaknya harus berpuasa dan berkabung.
Tulisan Oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail
Mengapa ia tidak berterima kasih?” Kalimat seperti ini sering meluncur dengan nada yang kecewa, manakala seseorang telah membantu sesamannya namun tidak ada ungkapan terima kasih sama sekali. Mengapa kecewa? Karena ia mengharapkan orang yang ditolongnya itu mengucapkan terima kasih, merasa utang budi dan seterusnya.
 
Sangat mungkin orang yang ditolong ini di dalam hatinya berterima kasih, namun si penolong menginginkan lebih dari itu. Jelas orang seperti ini motifnya bukan semata-mata menolong, tetapi ia mempunyai pamrih. Pamrih agar yang ditolongnya itu merasa berhutang budi, pamrih popularitas, pamrih ingin disebut pahlawan dan dermawan. Pertolongannya ini sesungguhnya adalah investasi dengan harapan menghasilkan laba yang berlimpah. Dan ingatlah pamrih selalu menimbulkan kekecewaan.
 
Ada banyak aktivis yang melayani di gereja sering kali berakhir dengan kekecewaan karena merasa tidak dihargai dan tidak ada orang yang berterima kasih atas pelayanannya. Seringkali kita lupa dengan istilah pelayanan. Pelayan erat kaitannya dengan hamba. Hamba adalah orang yang mengabdi sepenuhnya kepada tuannya. Hal utama yang harus dipikirkan bagi siapa saja yang mengaku hamba atau pelayan adalah bagaimana menyenangkan siapa yang dilayaninya. Bukan sebaliknya mencari kesenangan dan keuntungan sendiri. Apa yang diajarkan Tuhan Yesus tentang hamba?
 
Lukas 17 :10 Yesus mengajar para murid-Nya: "Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." 
Penghargaan tidak usah dirancangkan dari awal, ia akan datang dengan sendirinya manakala Anda bersungguh-sungguh fokus pada tugas panggilan yang ditekuni.
 
 
Tulisan Oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

Yakobus 2: 1-13

Seorang terpelajar pada suatu saat mendapat tiket gratis menginap di sebuah hotel berbintang. Ia datang dengan pakaian sederhana dan bekal seadanya. Ketika tiba di hotel, manajer hotel tidak bersahabat menyambutnya. Ia membiarkannya kebingungan.

 

Hari berikutnya, orang tersebut membeli setelan baju mewah, dengan dandanan mewah. Saat kembali ke hotel, manajer hotel menyambutnya dengan ramah, dan mengajaknya makan bersama. Ia memesan hidangan khusus yang paling lezat.

 

Orang itu duduk berhadapan dengan sang manajer hotel. Namun, orang itu tidak memakan hidangan yang disediakan untuknya melainkan ia melumuri pakaiannya dengan makanan spesial itu. Sang manajer heran dan menanyakan apa maksud tamunya berbuat itu. Lalu ia menjawab, “Kemarin saya datang dengan pakaian lusuh, Anda tidak peduli dengan saya. Anda membiarkan saya kebingungan. Tetapi setelah saya memakai pakaian mewah ini, Anda menawari saya makanan mewah ini. Sekarang saya tahu bahwa makanan ini bukan untuk saya melainkan untuk pakaian mewah ini!”

 

Membedakan orang melalui penampilan bukan hanya milik orang modern saja. Pada jemaat di mana Yakobus melayani juga terjadi perlakuan seperti itu. Ada orang-orang yang diperlakukan istimewa karena ia orang kaya dan sebaliknya memandang rendah orang miskin. Perlakuan seperti ini dipandang oleh Yakobus sebagai tindakan yang jahat. Mengapa? Karena Allah sendiri tidak pernah membeda-bedakan orang bahkan justeru mereka yang miskin, yang seringkali dilecehkan sesamanya justeru merekalah yang dimuliakan Tuhan.

 

 

 

Page 10 of 15

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida