Sarana Penunjang

REK. GKI  MANGGA  BESAR

 

 Bank BCA

No. Rek: 684 - 029 - 9340

a/n: GKI Mangga Besar

 

Jadwal Kebaktian

KEBAKTIAN UMUM

Minggu - Pk. 08.00 WIB

KEBAKTIAN REMAJA

Minggu - Pk. 10.00 WIB

SEKOLAH MINGGU

Minggu - Pk. 10.00 WIB

KEBAKTIAN DEWASA

Rabu - Pk. 11.00 WIB

PERSEKUTUAN DOA PAGI

Sabtu - Pk. 07.00 WIB

Kegiatan Akan Datang
No events
Gabung Dengan Kami

Member Login
Pastikan Anda selalu LOGIN agar lebih leluasa mengakses Situs ini.....Terima Kasih

Kalender Kegiatan
December 2017
S M T W T F S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6
Tulisan Oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

“Ada seribu satu alasan untuk menolak berbuat baik terhadap seseorang, ketika di hati Anda tidak ada cinta. Namun, seribu satu hambatan dapat Anda atasi jika ada cinta di hati Anda.”

(Nanang)

 

Kalimat tema di atas terdengar indah dan ideal, namun sulit dan cenderung  mustahil untuk dilakukan. Mengapa? Kalau mau jujur, kebiasaan kita berbuat baik adalah sebagai respon atau reaksi dari pihak lain yang telah terlebih dahulu mengasihi kita. Alm.Pdt. Eka Darmaputera, menyebutnya “mengasihi kalau…”. Ya, kita berbuat baik pada orang lain, kalau orang lain itu mengasihi saya. Atau karena orang yang kita kasihi itu mempunyai hubungan emosional dengan kita. Kasih yang seperti ini adalah kasih “kasih reaktif-transaksional”. Bisa juga kita mengasihi dengan konsep “kasih supaya”. Saya mengasihi supaya orang lain juga mengasihi saya. Kasih seperti ini pusatnya adalah ego, ukurannya adalah saya. Apakah menyenagkan saya atau tidak. Dapatkah tipe “kasih kalau” atau “kasih supaya” ini terus mengasihi sampai menderita? Saya meragukan orang dengan tipe kasih seperti ini dapat terus berbuat baik dengan tulus. Batu ujinya sederhana. Coba kita perhatikan diri sendiri dalam hal berbuat baik. Anda selama ini terus berbuat baik pada seseorang. Namun, suatu ketika Anda mendengar orang tersebut menceritakan hal yang tidak menyenangkan dari diri Anda. Dia memfitnah Anda. Apakah perbuatan baik Anda akan seperti yang sudah-sudah? Ataukah Anda akan mengurangi berbuat baik terhadapnya, atau sama sekali berhenti berbuat baik karena Anda merasa terhina dan dikhianati?

 

Dalam renungan terdahulu saya sempat meminjam ungkapan Mahatma Gandhi. Menurutnya, ada dua hal yang memotivasi manusia dalam melakukan sebuah tindakan. Pertama, karena takut. Seseorang berbuat baik bisa saja karena takut. Takut dihukum, takut tidak di terima oleh kelompoknya, takut tidak dihargai, dan sederet takut-takut yang lainnya. Kedua, karena cinta. Motivasi melakukan perbuatan baik karena cinta, dampaknya luar biasa. Baik bagi yang melakukan maupun yang menerima cinta itu. Orang dengan motivasi cinta: Ia akan melakukan tindakan apa pun demi orang yang dicintainya. Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta, ia akan melakukan tindakan apa pun untuk kekasihnya. Bahkan maut pun ia rela pertaruhkan. Kata orang cinta itu butuh pengorbanan! Namun, perhatikanlah dan dengarkanlah kata hati seorang yang dengan tulus sedang jatuh cinta. Apakah ia merasa sedang berkorban dan menderita? Saya kira tidak! Justeru ia akan merasa gembira ketika orang yang dicintainya itu tersenyum bahagia. Segala pengorbanan dan penderitaannya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan senyum kebahagiaan sang kekasih.

 

Bersin, batuk, cegukan, mendengkur, atau menguap pasti pernah Anda alami. Ketika di daerah berdebu, Anda akan bersin. Lalu ketika menghirup sesuatu yang membuat napas sesak, Anda akan batuk. Kadang Anda juga mengalami cegukan yang berbunyi 'hik'. Mendengkur atau mengorok juga bisa jadi dialami siapapun. Satu lagi yaitu ketika mengantuk, Anda menguap.

Kegiatan itu sering terjadi di luar kemauan dan merupakan proses alami. Mengapa hal itu bisa terjadi? Secara ilmiah, hal tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut.

 

 

Bersin

Bersin merupakan aliran udara yang hebat melalui mulut dan hidung. Ini terjadi di luar kemauan. Biasanya bersin terjadi karena ada partikel pengganggu dalam hidung Anda. Ujung-ujung saraf di dalam hidung merangsang Anda bersin untuk menyingkirkan partikel-partikel tersebut.

Penyebab lain adalah udara dingin atau sakit flu. Pada saat sakit flu, banyak partikel asing di dalam hidung Anda sehingga memaksa hidung merangsang bersin.
Yang perlu Anda tahu tentang bersin yaitu kecepatan udara saat Anda bersin mencapai 166 kilometer per jam. Lalu saat bersih Anda akan mengeluarkan sampai 100.000 butiran kecil lendir dan mikro organisme. Itu sebabnya, saat bersin sebaiknya Anda menutupi hidung dan mulut Anda karena dapat membahayakan orang lain.

 

Batuk

Sama seperti bersin, ketika Anda batuk bertujuan untuk mengusir zat berbahaya dalam tubuh Anda. Jika bersin terjadi karena ada partikel asing di hidung, maka batuk terjadi karena ada partikel atau zat asing di dalam paru-paru atau tenggorokan. Tujuannya untuk membersihkan paru-paru dari zat yang berbahaya saat saluran pernapasan mulai terganggu. Batuk dapat pula menjadi upaya yang disengaja untuk membersihkan tenggorokan. Batuk juga bisa menyebarkan kuman yang menyebabkan penyakit. Karena itu, sebaiknya ketika batuk, Anda menutupi mulut Anda.

 

Cegukan

Cegukan terjadi di luar kemauan atau tidak dapat dikontrol. Cegukan merupakan pengambilan udara secara mendadak yang disebabkan karena kontraksi diafragma secara tidak teratur. Penyebabnya karena gangguan organ-organ tubuh dekat diafragma. Kejang ini menarik udara dari paru-paru melalui laring, membentur epiglotis, menyebabkan pita suara bergetar. Oleh karena itu, akan menimbulkan suara ’hik’ saat Anda cegukan.

 

Mendengkur

Saat tidur, beberapa orang mendengkur atau mengorok. Suara kasar saat Anda tidur ini biasanya disebabkan karena bernapas melalui mulut. Jaringan lembut pada langit-langit mulut dekat tenggorokan bergetar karena udara melewatinya saat Anda bernapas melalui mulut. Selain itu, bibir, pipi, dan lubang hidung Anda juga ikut bergetar. Posisi yang umum menyebabkan mendengkur adalah tidur terlentang. Hal ini karena mulut cenderung menganga dan lidah menghalangi saluran pernapasan. Salah satu solusinya adalah dengan mencoba tidur miring.

 

Menguap

Saat mengantuk, Anda akan menguap. Mengapa Anda menguap? Karena paru-paru Anda kurang mendapat oksigen. Dengan mengambil nafas dalam-dalam di luar kemauan terjadi sebagai respon alami akibat tertutupnya paru-paru oleh karbondioksida atau kekurangan oksigen.

 

Yang juga menarik, yaitu menguap diduga sebagai kebiasaan menular. Jika Anda melihat atau mendengar orang lain menguap, yang sering terjadi adalah Anda ikut-ikutan menguap. Fenomena ini masih menjadi misteri bagi banyak ilmuwan.

 

 

Romo Franz Magnis Suseno : Radikal dalam Iman, Toleran pada Sesama

 

 

Franz Magnis Suseno atau akrab disapa Romo Magnis sudah genap berusia 75 tahun pada Mei 2011 lalu. Sebagai rohaniawan Katolik dari Ordo Serikat Yesus (SJ), perjalanan hidupnya tidak lepas dari panggilan untuk berkarya untuk Allah dan sesama.

Dia tiba di Indonesia pada Januari 1961 setelah menjalani studi S2 filsafat di Hochschule fur Philosophie di Pullach, Jerman. Alasannya cukup sederhana. Dia merasa hidup dan ilmunya bisa lebih bermanfaat bagi gereja di Indonesia dibandingkan di Jerman.

“Saya tidak pernah berminat kembali ke Jerman. Saya mau tetap di sini, saya merasa bisa dan diterima, maka saya menjalankan semua seluk beluk birokrasi menjadi warga negara Indonesia (WNI) selama tujuh tahun dari tahun 1970 sampai tahun 1977 akhirnya resmi menjadi WNI. Tidak ada alasan khusus, mungkin, karena saya tidak bayar khusus. Tetapi, tidak apa-apa menunggu sedikit lama,” kata Romo Magnis di awal pembicaraan dengan SP di kampus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, baru-baru ini.

Kurun waktu 50 tahun di Indonesia bukan masa yang pendek. Romo Magnis yang juga dikenal sebagai budayawan ini, sudah hidup di Indonesia di bawah kepemimpinan enam presiden sejak Presiden Soekarno berada di puncak kejayaan.

 

Tulisan Oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

MERENDAHKAN DIRI, MELAYANI DENGAN PENUH KASIH

 

“Melayani”, kata ini tampaknya kata yang mengalami devaluasi yang luar biasa besarnya. Kalangan manapun dapat menggunakan kata ini meski tak perlu memahami arti sesungguhnya. Dari pemerintah, partai politik sampai lembaga-lembaga sosial masyarakat. Dari restoran, rumah sakit, kepolisian sampai panti pijat dan rumah bordir, gemar menggunakan kata melayani.

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan kata melayani dengan “membantu mengurus atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan seseorang, meladeni.” Orang yang melakukannya disebut: pelayan. Salah satu kata Yunani untuk pelayan adalah: δουλος (doulos), harfiahnya “hamba” namun lebih tepat “budak”. Pertanyaannya, adakah orang yang sungguh-sungguh mau menjadi pelayan, hamba atau budak? Bukankah sebaliknya, manusia cenderung ingin dilayani, disanjung dan diperlakukan dengan hormat?

 

Terminologi “melayani” beberapa hari belakangan ini menjadi populer ketika Pemerintah menggulirkan isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah menyatakan bahwa pilihan pahit itu terpaksa harus dilakukan agar perekonomian nasional tidak koleb karena membengkaknya subsidi BBM. Subsidi akan dialihkan sebagian untuk masyarakat miskin dan pembangunan inprastruktur serta program-program prorakyat lainnya. Kenaikan BBM hakikatnya untuk kesejahteraan rakyat! Partai-partai melihat isu kenaikan BBM ini merupakan isu seksi, maksudnya menjadi daya tarik luar biasa di tengah masyarakat. Para kader dari partai-partai politik baik di dalam gedung DPR, di media masa bahkan di jalanan berteriak, katanya membela kepentingan rakyat! Mereka, yang setuju atau tidak setuju dengan kenaikan BBM mengklaim berjuang untuk kepentingan rakyat. Menjadi pelayan rakyat! Pertanyaannya benarkah?

 

Mengatasnamakan rakyat miskin bukan hal yang baru. Yudas Iskaryot pun pernah memakai jargon ini. Ketika Yesus diurapi oleh seorang perempuan yang konon perempuan ini pernah diselamatkan Yesus saat hukum rajam batu lantaran ia kepergok berzinah tengah mengancamnya. Perempuan ini menuangkan setengah kati minyak narwastu murni ke kaki Yesus yang kemudian ia menyekanya dengan rambutnya sendiri. Melihat pemandangan yang dramatis itu, Yudas angkat bicara, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yohanes 12:5). Yudas melihat apa yang dilakukan oleh perempuan ini adalah pemborosan. Minyak wangi itu mahal, harganya tiga ratus dinar! Upah seorang buruh bekerja dalam sehari adalah satu dinar. Jadi untuk membeli minyak itu, perempuan itu harus bekerja kurang lebih tiga ratus hari. Jika saja upah buruh di Jakarta Rp. 50.000,- maka kira-kira harga minyak itu Rp. 50.000,-X 300 = Rp. 15.000.000,- jumlah yang tidak sedikit!

 

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida