Sarana Penunjang

REK. GKI  MANGGA  BESAR

 

 Bank BCA

No. Rek: 684 - 029 - 9340

a/n: GKI Mangga Besar

 

Jadwal Kebaktian

KEBAKTIAN UMUM

Minggu - Pk. 08.00 WIB

KEBAKTIAN REMAJA

Minggu - Pk. 10.00 WIB

SEKOLAH MINGGU

Minggu - Pk. 10.00 WIB

KEBAKTIAN DEWASA

Rabu - Pk. 11.00 WIB

PERSEKUTUAN DOA PAGI

Sabtu - Pk. 07.00 WIB

Kegiatan Akan Datang
No events
Gabung Dengan Kami

Member Login
Pastikan Anda selalu LOGIN agar lebih leluasa mengakses Situs ini.....Terima Kasih

Kalender Kegiatan
October 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4
Artikel Inspiratif
PDFPrintE-mail

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, “Guru, saya belum paham mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman ini berpakaian necis amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain.” Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas.”

 

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.” “Cobalah dulu sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.” Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas.

 

Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak.”

 

Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian.”

 

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

 

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda.

 

Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”

 

 

Tulisan Oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

“Syukur”, “Halleluyah”, “Alhamdulillah”, “Puji Tuhan”, itulah kata yang tepat diucapkan oleh segenap masyarakat Jakarta dengan selesainya Pemilihan Umum Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Mengapa? Bukan karena Mas Jokowi dan Ko Ahok yang memenangkan Pemilukada ini. Melainkan kita mensyukuri apa yang dikuatirkan sebelumnya tidak terbukti. Masyarakat Jakarta bisa merayakan perbedaan. Menghormati pendapat orang lain dan tidak memaksakan kehendak.

 

Bayangkan, dalam masa-masa kampanye, ada pelbagai cara dari setiap pasangan calon untuk dapat meraih hati pemilih. Lihat saja dalam debat adu visi-misi yang diselenggarakan dua saluran televisi swasta nasional, tidak segan-segan setiap calon mencela lawan politiknya. Bahkan cenderung melecehkan ras tertentu. Isu SARA dihembuskan. Tempat ibadah tidak luput dari sasaran untuk meraih simpati. Seolah sebuah bencana besar akan terjadi jika pasangan calon gubernur dan wakil yang didukungnya kalah dan pasangan lawan yang menang. Ada perasaan tidak rela jika yang memimpin Jakarta ini bukan dari kalangan sendiri, bukan “orang kita”. Jakarta seolah dibuai oleh ketegangan dan kecurigaan yang berlebihan.

 

Sungguh di luar dugaan, setelah proses Pemilukada berlangsung, semua berjalan dengan baik. Pasangan calon Foke-Nara yang dalam debat publik tidak dapat mengungkapkan apa yang positif dari Jokowi-Basuki kini, dalam konferensi persnya dapat menghargai dan mengakui keunggulan lawannya. Hal serupa dilakukan oleh Jokowi, ia bertutur meminta maaf jika selama ini merepotkan dan menyerang kebijakan Foke. Jokowi menganjurkan agar seluruh pendukungnya menghormati Foke dan mengajak semua kelompok untuk bersatu membangun Jakarta. Sungguh indah!

 

Saya membayangkan Jakarta seperti kota kuno dalam Alkitab, kota Korintus. Korintus pada jaman Paulus merupakan sebuah kota pelabuhan yang sangat ramai. Pelbagai ras, suku, keyakinan, latar belakang pendidikan semua ada di kota itu. Korintus didirikan pada jaman neolitikum sekitar 6000 SM. Pada tahun 146 kota ini dihancurkan oleh Lucio Mummio dari Romawi. Namun kota ini dibangun kembali oleh Gaius Julius Caesar pada tahun 44 SM. Paulus mengunjungi dan mengabarkan Injil di kota ini sekitar tahun 50-51 M. Banyak orang yang menyambut pemberitaannya dan kemudian berdirilah Jemaat Korintus. Sebagaimana latar belakang dari penduduk kota itu yang beraneka ragam, demikian juga ketika jemaat Tuhan terbentuk di sana. Anggotanya pun terdiri dari pelbagai ras, budaya, kelompok, golongan, latar belakan pendidikan dan status sosial.

 

Artikel kiriman : Sdri. Lenny wati (Cen-Cen) - Tokyo, Jepang
PDFPrintE-mail

SETITIK HARAPAN

 

Sejauh mata memandang, setitik harapan itu ada .

Namun akankah setitik itu membuat perubahan yang sangat mendalam seperti perubahan metamoforsa

 

Dari butiran yang ada yang kemudian mulai perlahan lahan perubahan ada dan memulai kehidupan yang baru nyata.

Disetiap perubahan satu persatu itu ada apakah ada di hati dan iman kitapun ada perubahan seperti perubahan yang terjadi oleh metamoforsa??

 

Setiap perubahan akan ada rentan akan terpaan dan masalah yang dihadapi bahkan akan mengancam perubahan itu berhenti.

Hanya pengharapan dan setitik harapan yang sungguh, maka perubahan itu akan terus berkembang menjadi perubahan yang sungguh luar biasa

dan tanpa kita sadari akan memukau perhatian setiap orang yang melihat dan luar biasa.

 

Semoga di hari jadinya gereja GKI Mangga Besar beserta jemaat, kiranya kita mampu memberi setitik harapan perubahan yang sama dengan

perubahan metamoforsa yang tanpa berhenti terus berubah untuk mendapat perubahan yang Luar biasa di dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan .

Karena Dia lah yang membuat kita menjadi berharga.

 

Amin


Artikel kiriman : Ibu Triliana
PDFPrintE-mail

Dari kecil saya sudah bergereja di GKI Mabes, suka duka saya alami, hingga saya remaja dan aktif di gereja. Semenjak saya menikah saya sudah tidak aktif lagi di GKI Mabes, saya hilang bertahun-tahun tetapi saya tidak menghilang begitu saja. Saya hanya menjadi Kristen “NAPAS” (Natal-Paskah). Sebenarnya saya rindu untuk beribadah di GKI Mabes, berhubung jarak rumah kami yang jauh dan itulah yang menjadi pergumulan bagi kami. Saya berdoa bagaimana kami dapat beribadah di GKI Mabes dengan sungguh-sungguh.

 

Mungkin sudah jalannya Tuhan, tidak kami duga pada malam hari Pdt. Nanang, Pnt. Jadisastra, dan Pnt. Ong Bian Fung datang ke rumah kami untuk meminta suami saya melayani di GKI Mabes menjadi penatua, banyak pergumulan yang kami alami untuk menjawab permintaan itu. Tetapi kami mengingat kembali betapa baiknya Tuhan kepada kami yang sudah memberkati dan memberikan kesehatan kepada kami, inilah cara kami mengucap syukur kepada Tuhan dengan menerima menjadi penatua dan melayani di ladangnya.

 

Dari peneguhan itulah kami mulai aktif kembali beribadah di gereja dan melayani, dan saya pun sangat rindu untuk melayani karena dengan melayani, persekutuan saya hidup kembali dengan adanya persekutuan kami dapat berbagi suka dan duka dengan pendeta dan teman-teman kami di gereja. Hidup di dalam persekutuan, kami dapat kekuatan dan kami juga tidak ada alasan lagi untuk tidak beribadah dan melayani, karena kami punya rasa memiliki sebagai kesatuan gereja GKI Mabes.

 

Dan tidak terasa sekarang GKI Mangga besar sudah memasuki usia 29 tahun, usia yang sudah dewasa, biarlah dengan bertambahnya usia, bertambah juga hikmat dan kedewasaan dalam pelayanan dan juga kebersamaannya. Dan juga orang-orang didalamnya bertambah hikmat dari Tuhan, karena gereja bukanlah gedungnya tetapi orang-orang didalamnya. Apakah didalamnya ada kebersamaan dalam pelayanan atau ada jarak pemisah.

 

Tetapi saya yakin GKI Mabes terkenal dengan kebersamaan dan kekeluargaannya sangat kuat, itu juga kalau ada rasa memiliki terhadap gerejanya tetapi kalau tidak ada rasa memiliki tidak tahu bagaimana jadinya GKI Mangga Besar di masa depannya.

 

Saya ucapkan Selamat Ulang Tahun untuk gereja GKI Mangga Besar biarlah Tuhan yang selalu menyertai kehidupan jemaatnya, pendeta, penatua, dan juga komisi-komisi yang ada agar Tuhan selalu menyertai pelayanannya.


 

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida