Sarana Penunjang

REK. GKI  MANGGA  BESAR

 

 Bank BCA

No. Rek: 684 - 029 - 9340

a/n: GKI Mangga Besar

 

Jadwal Kebaktian

KEBAKTIAN UMUM

Minggu - Pk. 08.00 WIB

KEBAKTIAN REMAJA

Minggu - Pk. 10.00 WIB

SEKOLAH MINGGU

Minggu - Pk. 10.00 WIB

KEBAKTIAN DEWASA

Rabu - Pk. 11.00 WIB

PERSEKUTUAN DOA PAGI

Sabtu - Pk. 07.00 WIB

Kegiatan Akan Datang
No events
Gabung Dengan Kami

Member Login
Pastikan Anda selalu LOGIN agar lebih leluasa mengakses Situs ini.....Terima Kasih

Kalender Kegiatan
December 2017
S M T W T F S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6
Sudahkah kita semua menjadi PELITA ?
PDFPrintE-mail

Pada suatu malam, seorang buta
berpamitan pulang dari rumah
sahabatnya. Sang sahabat
membekalinya dengan sebuah lentera
pelita. Orang buta itu terbahak berkata:
"Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."
Dengan lembut sahabatnya menjawab,
"Ini agar orang lain bisa melihat kamu,
biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk
membawa pelita tersebut.

 

Tak berapa lama, dalam perjalanan, Seorang pejalan menabrak si buta.                                                  

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!"         

Tanpa berbalas sapa, merekapun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya
menabrak si buta. Kali ini si buta
bertambah marah, "Apa kamu buta?
Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!"

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"                               

Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf,                                                      

"Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."          

                           

Tulisan oleh: Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

Ada cerita menarik yang ditulis oleh J.P. Vaswani  dalam buku Menulis di Atas Pasir. Alkisah, ada seorang perempuan sedang bercakap-cakap dengan keponakannya tentang keampuhan doa. Tiba-tiba anak kecil itu bertanya, “Jika aku berdoa, memohon kepada Tuhan agar Dia membantuku menemukan kelereng-kelerengku yang hilang, akankah Dia menjawab doaku?”

 

“Tentu saja!” perempuan itu meyakinkan kepada ponakannya. “Dia selalu menjawab doa-doa kita!”

 

“Bolehkah aku berlutut dan berdoa kepada Tuhan sekarang?” tanya anak itu. Segera setelah mendapat persetujuan dari bibinya, anak kecil itu berlutut di kursinya, menutup mata dan berdoa di dalam hatinya. Kemudian ia bangkit dan mulai pencarian kelerengnya dengan hati lega dan gembira.

Hari berikutnya, perempuan itu bertanya kepada keponakannya apakah ia telah berhasil menemukan kelereng-kelerengnya. Perempuan itu berharap iman sederhana anak kecil itu tidak perlu menghadapi kekecewaan. “Belum, Bibi, aku belum menemukan kelereng-kelerengku, jawab anak itu. “Tetapi sekarang, Tuhan telah membuatku tidak ingin lagi menemukan kelereng-kelereng itu!” Tuhan tidak selalu menjawab doa-doa kita sesuai dengan keinginan dan harapan kita, tetapi jika kita tulus, Dia akan menghapuskan kita dari keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya!

 

Bukankah kita sering mengakhir doa-doa kita dengan ucapan, “Kiranya kehendak-Mu saja yang jadi!” atau yang senada dengan itu. Namun, seringkali pula kita tidak sepenuhnya membiarkan dan melepaskan semua harapan kita itu kepada-Nya. Buktinya, kita dibayang-bayangi oleh keinginan yang menurut kita adalah yang paling ideal. Sebenarnya kita belum rela membiarkan Tuhan berkarya sesuai dengan kehendak-Nya! Mengapa? Karena jika, “yang ideal” itu tidak terpenuhi, kita menyimpulkannya bahwa Tuhan tidak mendengar doa-doa kita. Misalnya, ketika kita mengalami sakit serius, umumnya kesembuhan adalah jawaban yang ideal. Karena itu yang diharapkan dalam doa-doa kita. Namun, bisakah kita tiba pada keyakinan jika hal itu tidak terjadi, maka ada kehendak-Nya yang lebih baik untuk kita. Sehingga kita dapat seperti anak kecil itu yang tidak lagi berminat menemukan kelereng karena yang lebih berharga dari itu sudah ia dapatkan.

 

Hal ini sama seperti yang dialami Paulus, ketika ia sakit, ada duri di dalam daging yang selalu menyiksanya. Paulus berdoa tiga kali kepada Tuhan agar dapat disembuhkan, namun Tuhan menjawabnya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justeru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”(2 Kor.12:9). Bukan berarti kesembuhan tidak penting! Bukan pula tidak usah berdoa memohon kesembuhan manakala kita sakit. Namun, selalu ada dimensi lain bagi orang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya dalam kehendak Tuhan. Hal ini berlaku tidak hanya dalam pergumulan sakit penyakit, tetapi juga dalam semua aspek pergumulan hidup yang kita bawa di dalam doa-doa kita. Tuhan akan memberikan yang lebih berharga dari apa yang kita minta.

 

 

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna
sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan
terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih
menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

 

Tgl. 26 - 27 Oktober 2012 - Bertempat di: Padepokan Bukit Kehidupan, Gunung Geulis
PDFPrintE-mail

 

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida