Written by Tulisan Oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

“Memberikan korban persembahan bagi Allah”. Kalimat ini sering kita dengar dan karena seringnya mungkin tidak lagi menjadi persoalan buat kita. Namun, cermatilah! Apakah Allah membutuhkan pengorbanan dari seorang anak manusia? Bukankah Dia Yang Mahakuasa dan Pemilik segalanya? Lantas, buat apa korban itu diberikan?

 

Kalau kita menelisik korban persembahan, akarnya jauh ada dalam Perjanjian Lama. Bahkan sebelum ada tradisi korban di Perjanjian Lama, bangsa-bangsa di luar Israel pun telah mengenal dan mempraktekkan ritual-ritual penyembahan yang disertai dengan penyerahan korban. Penyerahan korban persembahan itu bisa hasil bumi, hewan ternak, bahkan manusia! Peradaban kultus penyembahan dalam Yudaisme berangsur-angsur menjadi lebih tertata. Kitab Kejadian mencatat ritus korban persembahan yang dilakukan oleh Kain dan Habil. Abraham menjadi tenar sebagai bapa orang percaya setelah berhasil melewati ujian mempersembahkan Ishak, anak yang lama dinanti-nantikannya. Sejarah keluarnya Israel dari perbudakan di tanah Mesir dengan peringatan Paskah tidak luput juga dengan korban persembahan. Kitab Imamat merinci dan mengatur bagaimana korban-korban persembahan dilakukan serta orang-orang yang diberi otorisasi menyelenggarakannya.

 

Korban persembahan menjadi hal utama dalam ritual ibadah Israel, sebab tanpa itu tidak akan terjadi hubungan yang baik antara Allah dan manusia. Dosa manusia telah merusak hubungan baik itu. Maka Hari Penebusan atau Hari Pendamaian itu memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan umat. Hari menjadi penting, mengapa? Karena pada hari itu terjadi penebusan bagi semua dosa umat. Hari itu adalah hari satu-satunya di mana Imam Besar secara pribadi mempersembahkan korban. Pada hari-hari biasa pekerjaan itu diserahkan kepada imam-imam bawahan.

 

Written by oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

Mungkinkah Tuhan menciptakan burung dengan sepasang sayapnya kalau Dia tidak lebih dahulu membentangkan langit? Atau mungkinkah Dia menjadikan ikan-ikan dengan sirip dan kemampuan berenang tapi tidak menjadikan samudera? Mungkinkah Tuhan menaburkan benih kekekalan dalam hati manusia kalau Dia tidak menjadikan kehidupan kekal dan kematian kekal?

 

Apa pun keyakinan atau iman kita, pasti nurani mengatakan bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian tubuh ini. Di balik kematian ada sebuah "pengadilan" yang menuntut tanggungjawab kita. Apakah kehidupan kekal yang menjadi bagian kita atau kematian kekal. Semuanya ditentukan saat ini ketika nafas masih berhembus.

 

"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." (2 Korintus 5:10)

 

 

Written by Tulisan Oleh: Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

Di tengah gunjang-ganjing prahara Polri VS KPK, muncullah beberapa spekulasi pendapat mengenai sosok sang Presiden, Jokowi. Para pengamat politik umumnya berkomentar bahwa sang Presiden sedang gundah-gulana, berada dalam tekanan maha berat sehingga terlihat gamang dalam mengambil keputusan. Seolah menjadi pembenaran bagi para pakar politik ketika sang Presiden menulis status di akun facebook dalam bahasa Jawa, “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti…” Arti kalimat ini teramat dalam.

 

Suro :Keberanian yang ada dalam diri manusia. Manusia dianugerahi Tuhan dengan sifat keberanian, namun jika keberaniaan ini tanpa kendali, akibatnya menjadi destruktif. Manusia berani melakukan kesewenangan dan kejahatan.

 

Diro : Kekuatan, kekuatan yang ada dalam diri manusia bila diberdayakan akan menjadi kekuatan luar biasa, baik kekuatan lahir maupun kekuatan batin.

 

Joyo : Kejayaan. Apabila manusia sudah meraih kesuksesan/kejayaan dan lepas dari kendali nurani, yang terjadi adalah manusia itu menjadi pongah, sombong, angkuh dan jauh dari prinsip moral dan prikemanusiaan.

 

Ningrat : Bergelimang dengan kekayaan dan kenikmatan duniawi. Ningrat bisa juga berarti gelar bangsawan yang hidup dalam menara gading, serba mewah.

 

Lebur : Hancur luluh tak berbekas, sirna atau tunduk menyerah.

 

Dening : Dengan

 

Pangastuti : Kasih sayang, kebaikan.

 

Sederhananya Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti berarti : “Segala sifat keras hati, picik, serakah  dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lemah lembut dan sabar sebagai bentuk nyata dari kasih sayang!

 

Page 1 of 4

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida