Refleksi

Written by Tulisan by: Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail
Lama sudah tidak bertemu dengan kawan yang satu ini. Namun, saya dapat memantaunya lewat dunia maya, Facebook. Saya ikut gembira, usahanya maju pesat. Ia mempekerjakan banyak karyawan dan menjadi berkat bagi keluarga mereka. Dalam pertemuan itu ia bercerita bahwa kini perusahaannya tidak lagi seperti dulu. "Semula kami memercayakan seluruh aktivitas produksi, pemasaran dan keuangan kepada seorang saudara," Ia mengenang kisahnya ketika berusaha menolong saudaranya untuk ikut maju bersama dalam bisnisnya. "Semua rahasia-rahasia perusahaan sudah kami percayakan kepadanya. Mulai dari mencari bahan baku, resep membuat produk, merekrut karyawan, mengelola keuangan dan perpajakan, sampai jaringan pemasaran. Eh, ternyata, akhirnya dia ambil alih. Maksudnya, dia mendirikan perusahaan yang percis sama dengan saya. Dan semua; dari hulu sampai hilir dia kuasai. Ya, sudahlah ini sebuah risiko terlalu percaya orang sekalipun dia adalah saudara sendiri!" Ungkap sang kawan dengan mencoba menghibur diri. Tidak sedikit kisah seperti ini. Orang kepercayaan di kemudian hari berbalik dan "memakan" habis ladang usaha yang dirintis mulai dari nol. Sudah barang tentu sang pengusaha atau pemilik modal merasa kecewa atau sakit hati. Pada pihak lain, sering kali orang kepercayaan tergoda untuk semakin jauh melewati batas: menguasai apa yang bukan miliknya itu. Ia dapat merasakan betapa nikmatnya punya banyak aset, perusahaan besar, relasi luas dan disanjung banyak orang sebagai pengusaha sukses! Goadaan ini mengalahkan moralitas dan nurani. Yesus memakai cerita perumpamaan dunia usaha, dalam hal ini pengusaha kebun anggur untuk menegur kaum klerus dan pemimpin Yahudi yang tidak hidup dalam moralitas sebagai umat TUHAN (Matius 21:33-46). Pengusaha anggur Palestina pada masa Romawi biasanya punya banyak tanah atau kebun. Para pengusaha ini tinggal di kota dan mereka menyewakan tanah atau kebunnya itu kepada para penggarap. Para penggarap dan pengusaha atau tuan tanah itu mengikat perjanjian. Si tuan tanah memberi kepercayaan kepada para penggarap untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan para penggarap itu boleh melakukan usahannya dengan imbang bagi hasil. Setiap periode tertentu para penggarap ini harus menyerahkan hasil dari kebun anggur itu. Namun apa yang terjadi dalam kisah perumpamaan ini? Para penggarap menikmati hasil kebun anggur itu. Mereka terlena dan enggan untuk menyerahkan apa yang menjadi bagian dari tuannya. Kini, mereka merasa bahwa lahan kebun itu sepertinya sudah menjadi milik mereka sendiri dan kemudian berniat untuk menguasai sepenuhnya. Tentu, sang tuan tidak tinggal diam. Dia mengirim utusan-utusannya untuk menagih hasil kebun anggur itu sesuai dengan kesepakatan semula. Hasilnya? Tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapan sang tuan! Para hamba utusan itu dipukul, dilempari dengan batu bahkan dibunuhnya. Dalam kejengkelan dan kemarahannya maka kini sang tuan mengutus anaknya sendiri. Sang tuan berpikir, dengan mengutus anaknya para penggarap ini akan segan dan akhirnya menyerahkan hasil kebun anggur itu. Meleset, alih-alih takut terhadap anak sang tuan tanah ini, mereka menangkap, menyeretnya ke luar kebun anggur itu dan akhirnya membunuh si anak itu. Mereka berpikir kini tidak ada lagi pewaris dari kebun anggur itu. Merekalah yang akan menjadi pemiliknya kemudian! Di luar dugaan, sang tuan murka dan akhirnya membinasakan para penggarap kebun anggur itu. Perumpamaan kebun anggur ini mengingatkan kebun anggur Israel dalam Yesaya 5:1-7. Kebun anggur itu melambangkan Israel sendiri yang tidak menghasilkan buah. Tetapi dalam Injil Matius ini, kebun anggur diartikan secara positif sebagai Kerajaan Allah (ay.43). Sang tuan mengutus hamba-hambanya untuk menyerahkan buah-buah (tous karpous). Buah-buah yang dimaksud adalah melakukan kehendak Allah. Para hamba sang tuan ini jelas mengacu kepada utusan-utusan TUHAN untuk menegur umat-Nya supaya melakukan kehendak-Nya. Mereka diutus berulang kali, terus-menerus (Yer.&:25; 25:4), tetapi ditolak dan dipukul bahkan dirajam dan dibunuh (Yer.20:2; 26:21-23; Mat. 23:37). Berbeda dengan Yesaya 5, Matius tidak mendakwa kebun anggur, tetapi para penggarap yang diberi kepercayaan tetapi tidak menyerahkan hasil kepada tuannya. Dalam hal ini mereka disamakan dengan para pendengar perumpamaan, yakni para imam kepala, tua-tua Yahudi, kaum Farisi dan elite umat Yahudi. Akhirnya Si Tuan mengutus anaknya sendiri, anggapannya bahwa anak itu akan disegani oleh para penggarap kebun anggur. Bukannya menyegani sang anak, malah mereka membunuhnya dengan perhitungan yang bodoh bahwa mereka akan segera mewarisi kebun anggur itu. Sebutan "anaknya" (bnd. Mat.3:17; 17:5 "anaknya yang kekasih" dalam Mrk.12:6) beserta kata keterangan "akhirnya" dan tempat pembunuhan di "luar kebun anggur" tak terbantahkan hanya dapat merujuk kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang segera sesudah itu akan dibunuh di luar kota Yerusalem (Mat.27:31-32; Ibr.13:12-13). Secara inplisit Yesus telah memperkenalkan diri-Nya sebagai Anak Allah kepada para pemimpin Yahudi. Dengan demikian pastilah maksud perumpamaan ini telah dimengerti oleh mereka. Dalam dialog dengan para pemimpin Yahudi itu, mereka mengakui bahwa perhitungan para penggarap kebun anggur dengan membunuh anak sang tuan itu sama sekali meleset. Bukannya menjadi ahli waris, orang-orang jahat itu akan dibinasakan oleh tuan mereka. Satu generasi setelah perumpamaan ini mereka mengalami tragedi itu. Yerusalem ditaklukan dan penduduknya dibantai oleh pasukan Romawi sekitar tahun 70 M. Sedangkan Sang Tuan akan mempercayakan kebun anggur (Kerajaan Allah) itu kepada orang lain! Kerajaan itu diambil dari para pemimpin bangsa Yahudi dan diberikan (bukan disewakan) kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan (bukan menyerahkan) buah-buah Kerajaan. Tidak dikatakan : "diberikan kepada bangsa-bangsa lain", sebab orang Yahudi pun tetap dipanggil untuk menjadi bagian dari bangsa baru yang adalah pengikut Kristus yang menyambut Kerajaan Allah dengan buah, yakni dengan melakukan kehendak-Nya. Jadi jelas, apa yang dimaksudkan Yesus bukan lagi primordial sebuah ras atau bangsa secara harfiah yang layak di hadapan-Nya, melainkan mereka yang mau tunduk dan setia serta menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah itu. Apa pun bangsanya mereka layak di hadapan-Nya. Status yang asli dari sebuah umat TUHAN bukanlah semata-mata diukur berasal dari keturunan mana atau siapa melainkan dari tekadnya dalam melakukan kehendak Allah. TUHAN memberikan kepada kita masing-masing "kebun anggurnya" sendiri-sendiri. Kita dimintanya untuk menggarap, memelihara dengan baik dan hasilnya tentu bisa kita nikmati tetapi jangan lupa yang utama adalah menyerahkannya kepada Sang Pemilik Kebun Anggur itu. Katakanlah "kebun anggur" itu adalah ladang pekerjaan kita. Kita bangun dari hari masih gelap, bersiap-siap pergi ke ladang itu dan pulang pun sudah kembali gelap. Kita merasa merintis "kebun anggur" itu. Lama-kelamaan kita merasa memilikinya. Padahal itu adalah sebuah kepercayaan dari Sang Tuan. Kita terlalu sibuk di "kebun anggur" itu dan akhirnya all out. Kita merasa "kebun anggur" itu adalah segalanya. Sehingga kita melakukan apa pun termasuk yang bertentangan dengan moralitas dan panggilan sebagai anak TUHAN di "kebun anggur" itu. Dan kini hidup kita adalah "kebun anggur" itu. Ada hamba-hamba TUHAN yang mengingatkan untuk kembali ke jati diri yang benar. Namun, sering kita menolak dan memusuhi. Dianggapnya menyinggung dan mau ikut campur. Alih-alih kembali mengoreksi kehidupan kita, kita sibuk mencari-cari kesalahan oerang yang menegur kita, bahkan tak segan-segan menfitnah dan menyingkirkannya. Ingatlah apa yang diajarkan Yesus. Kesempatan yang Allah berikan kepada setiap kita ada batasnya. "Kebun anggur" kita bukanlah segalanya. Namun, dari sana kita dapat memberi arti bagi kehidupan yang kekal. Jadi hasilkanlah "buah anggur yang baik" dan serahkanlah bagi kemuliaan Bapa di sorga!
Written by Oleh: Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

MENANAMKAN KEBENARAN DAN KEJUJURAN Amsal 22:1-6

 

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.”

(Amsal 22:6)

 

Sangat menarik jika kita perhatikan tingkah-laku anak kecil. Ada seorang ibu sedang melatih anaknya untuk belajar berjalan. Anak kecil itu belum mantap untuk berdiri. Ia memegangi tepi meja, mulailah merayap berjalan mengelilingi meja itu. Tiba-tiba anak kecil itu terjatuh dan kepalanya membentur kaki meja itu. Ibunya sontak kaget. Segera ia merangkul anaknya yang sedang menangis. Apa yang kemudian dilakukan si ibu? Ibu itu memukul meja dan berkata, “Meja jahat telah membuat kamu jatuh! Sudah diam, mama sudah pukul meja itu!” anak kecil itu segera berhenti menangis dan kini tertawa lagi.

 

            Praktis dan singkat. Si anak berhenti menangis dan ceria kembali. Namun, tanpa sadar orang tua sedang mengajarkan kepada anaknya untuk melampiaskan kekesalan dan mengalihkan kesalahan kepada pihak lain. Anak belajar membalas dendam dan mencari kambing hitam. Tidaklah mengherankan kalau pada saatnya nanti anak itu akan tumbuh dengan nilai-nilai didikan seperti itu. Kita saksikan sekarang ada banyak orang tumbuh dengan jiwa balas dendam, tidak jujur dan selalu mencari pihak lain yang dapat dijadikan kambing hitam bila ia melakukan kesalahan.

 

            Penulis Amsal mengingatkan kepada setiap orang dewasa untuk mendidik orang-orang muda dengan jalan yang patut baginya. Artinya, mengajarkan kebenaran dengan seutuhnya. Setiap orang tua berkewajiban menanamkan nilai-nilai kebenaran itu tidak cukup dengan ucapan. Melainkan dengan seluruh aspek kehidupannya.

 

 

REFLEKSI:

Buah dari ajaran yang salah tidak pernah menghasilkan tindakan yang benar

 

 

Written by Sumber : Sabda.org
PDFPrintE-mail

Mengherankan, Tuhan menggunakan metafora SEMUT untuk mengajarkan anak-anak-Nya ETOS KERJA yang benar. Amsal 6:6-8 menyatakan: "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen". Kalimat ini memang ditujukan kepada yang MALAS, atau kerangjingan MILIS, atau sering bikin alasan MULES saat disuruh kerja, sambil meMELAS bisa diberi waktu istirahat lebih banyak. Tapi SEMUT tidak demikian:

 

a. Mengambil INISIATIF. Semut tidak memerlukan komando atau pengawasan untuk bekerja, tapi senantiasa berINISIATIF, digerakkan dari dalam dirinya untuk senantiasa bekerja

 

b. Penuh INTEGRITAS. Integritas menyangkut kesetiaan kerja dan rasa tanggung jawab atas pekerjaan. Integritas adalah langka dimiliki manusia sekarang. Padahal, integritas adalah energi yang membuat kita dapat bertahan dalam masalah dan kesulitan kerja.

 

c. Selalu INDUSTRIOUS. Industrious adalah kapasitas untuk berindustri, berproduksi, berkarya; dapat diartikan rajin, tekun, tak kenal lelah bahkan pantang menyerah. Bila 'bukit semut' mereka runtuh, tetap para semut bekerja membangun bukit semut yang baru.

 

d. Visi dan Tujuan yang jelas. Semut bekerja sekarang untuk menikmati sejahtera di masa sulit dan berat. Ada target waktu, ada target kerja yang tertentu, Bekerja untuk sebuah harapan besar. Ini yang menjadikan semut berINISIATIF, penuh INTEGRITAS dan selalau INDUSTRIOUS.

Kalau semut aja bisa, apalagi ANAK-ANAK TUHAN. Jadilah BIJAK, belajarlah pada semut.

 

 

Written by Sudahkah kita semua menjadi PELITA ?
PDFPrintE-mail

Pada suatu malam, seorang buta
berpamitan pulang dari rumah
sahabatnya. Sang sahabat
membekalinya dengan sebuah lentera
pelita. Orang buta itu terbahak berkata:
"Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."
Dengan lembut sahabatnya menjawab,
"Ini agar orang lain bisa melihat kamu,
biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk
membawa pelita tersebut.

 

Tak berapa lama, dalam perjalanan, Seorang pejalan menabrak si buta.                                                  

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!"         

Tanpa berbalas sapa, merekapun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya
menabrak si buta. Kali ini si buta
bertambah marah, "Apa kamu buta?
Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!"

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"                               

Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf,                                                      

"Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."          

                           

Page 1 of 2

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida