Hampir semua agama atau kepercayaan mempunyai ritual puasa. Puasa dipahami sebagai salah satu bentuk kesalehan. Namun, sayang, melalui puasa kebanyakan manusia lebih senang dipandang sebagai orang saleh yang sedang melakukan ibadah tinimbang memaknai ritual itu sebagai salah satu cara mendekatkan diri kepada Yangkuasa.

Puasa, bukanlah hal asing dalam Alkitab. Kata Ibrani untuk “puasa” adalah tsum, tsom, dan ‘inna nafsyό, banyak dijumpai dalam Perjanjian Lama, arti harafiahnya: merendahkan diri dengan berpuasa. Jika berkaca pada Perjanjian Lama, ada beberapa makna dibalik ritual puasa, antara lain:

 

  1. Adalah bukti lahiriah ungkapan dukacita(I Samuel 31:13; 2 Samuel 1:12; 3:35; Nehemia 1:4; Ester 4:3; Mazmur 35:13-14). Ayat-ayat di atas mencataat puasa sebagai cara untuk mengungkapkan dukacita karena kematian kerabat atau kondisi bangsa yang sedang mengalami penderitaan. Tentu di dalam suasana dukacita, puasa tidak dimaksudkan untuk menyiksa diri melainkan tetap memohon pertolongan dan belaskasihan dari Tuhan. Lamanya puasa tergantung perkabungan dan dukacita yang sedang dirasakan oleh seseorang atau umat. Bisa tujuh hari (I Sam 31:13) atau beberapa hari (Neh.1:4).

  2. Pernyataan Pertobatan (I Samuel 7:6; I Raja-raja 21:27; Nehemia 9:1-2; Daniel 9:3-4; Yunus 3:5-8). Ayat-ayat ini menggambarkan pertobatan perorangan (I Raja 21:27: Penyesalan Raja Ahab), maupun umat atau bangsa atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Biasanya puasa pernyataan bertobat ini disertai dangan mengenakan pakaian kabung dan abu di kepala. Kitab Yunus menggambarkan puasa pertobatan dengan sangat gamlang. Pemberitaan yang disampaikan Nabi Yunus kepada bangsa Niniwe, bahwa jika bangsa itu tidak bertobat mereka semua akan dihukum. Lalu raja Niniwe memerintahkan semua rakyat beserta hewan ternaknya harus berpuasa dan berkabung.

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida