Sarana Penunjang

REK. GKI  MANGGA  BESAR

 

 Bank BCA

No. Rek: 684 - 029 - 9340

a/n: GKI Mangga Besar

 

Jadwal Kebaktian

KEBAKTIAN UMUM

Minggu - Pk. 08.00 WIB

KEBAKTIAN REMAJA

Minggu - Pk. 10.00 WIB

SEKOLAH MINGGU

Minggu - Pk. 10.00 WIB

KEBAKTIAN DEWASA

Rabu - Pk. 16.00 WIB

PERSEKUTUAN DOA PAGI

Sabtu - Pk. 07.00 WIB

Kegiatan Akan Datang
No events
Gabung Dengan Kami

Member Login
Pastikan Anda selalu LOGIN agar lebih leluasa mengakses Situs ini.....Terima Kasih

Kalender Kegiatan
October 2016
S M T W T F S
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5
Minggu, 24 Januari 2016
PDFPrintE-mail

BACALAH DAN DENGARLAH

 

Saya dapat membayangkan apa yang terjadi dalam peristiwa pembacaan Taurat pada Hari Raya Pondok Daun ( Nehemia 8:1-19) dan membandingkannya dengan kisah-kisah film silat pada era kekaisaran Tiongkok. Adegan ini di setiap film silat Mandarin hampir sama. Jika seorang pembesar diiringi para pengawal tiba di sebuah rumah atau kerumunan orang banyak, ia turun dari kudanya lalu memerlihatkan meterai kerajaan dan membuka sebuah gulungan surat dan berkata, “Titah Kaisar!” Maka reaksinya semua orang dengan gemetar akan sujud menyembah sampai ke tanah, mereka berteriak, “Hidup tuan ku kaisar, panjang umur, ribuan tahun usia!” Lalu sang utusan itu membuka gulungan titah Kaisar dan membacakan isinya. Mereka yang mendengarnya gemetar oleh karena kehadiran utusan yang membacakan dan titah itu merupakan kehadiran dan suara kaisar itu sendiri. Mereka serius dan gemetar mendengat titah itu oleh karena isinya menentukan hidup dan mati, baik dan buruknya nasib mereka.

 

Pemandangan serupa terjadi ketika Ezra membacakan beberapa bagian dari Taurat di depan pintu gerbang air dari pagi sampai tengah hari (Nehemia 8:4). Umat Israel memandang Ezra yang membawa Taurat merupakan tanda kehadiran Allah sendiri. Pada waktu Ezra membuka kitab itu, semua orang bangkit berdiri. Berbeda cara penghormatan rakyat Tiongkok terhadap kaisarnya, umat Israel menghormati Allah dengan berdiri. Mereka siap mendengar titah TUHAN. Mereka begitu antusias, serius dan gentar ketika berhadapan dengan Sabda Illahi yang sedang dibacakan itu.  Sebab Sabda Illahi itu menentukan baik-buruk, hidup-matinya mereka.

 

oleh : Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

Mungkinkah Tuhan menciptakan burung dengan sepasang sayapnya kalau Dia tidak lebih dahulu membentangkan langit? Atau mungkinkah Dia menjadikan ikan-ikan dengan sirip dan kemampuan berenang tapi tidak menjadikan samudera? Mungkinkah Tuhan menaburkan benih kekekalan dalam hati manusia kalau Dia tidak menjadikan kehidupan kekal dan kematian kekal?

 

Apa pun keyakinan atau iman kita, pasti nurani mengatakan bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian tubuh ini. Di balik kematian ada sebuah "pengadilan" yang menuntut tanggungjawab kita. Apakah kehidupan kekal yang menjadi bagian kita atau kematian kekal. Semuanya ditentukan saat ini ketika nafas masih berhembus.

 

"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." (2 Korintus 5:10)

 

 

“Memberikan korban persembahan bagi Allah”. Kalimat ini sering kita dengar dan karena seringnya mungkin tidak lagi menjadi persoalan buat kita. Namun, cermatilah! Apakah Allah membutuhkan pengorbanan dari seorang anak manusia? Bukankah Dia Yang Mahakuasa dan Pemilik segalanya? Lantas, buat apa korban itu diberikan?

 

Kalau kita menelisik korban persembahan, akarnya jauh ada dalam Perjanjian Lama. Bahkan sebelum ada tradisi korban di Perjanjian Lama, bangsa-bangsa di luar Israel pun telah mengenal dan mempraktekkan ritual-ritual penyembahan yang disertai dengan penyerahan korban. Penyerahan korban persembahan itu bisa hasil bumi, hewan ternak, bahkan manusia! Peradaban kultus penyembahan dalam Yudaisme berangsur-angsur menjadi lebih tertata. Kitab Kejadian mencatat ritus korban persembahan yang dilakukan oleh Kain dan Habil. Abraham menjadi tenar sebagai bapa orang percaya setelah berhasil melewati ujian mempersembahkan Ishak, anak yang lama dinanti-nantikannya. Sejarah keluarnya Israel dari perbudakan di tanah Mesir dengan peringatan Paskah tidak luput juga dengan korban persembahan. Kitab Imamat merinci dan mengatur bagaimana korban-korban persembahan dilakukan serta orang-orang yang diberi otorisasi menyelenggarakannya.

 

Korban persembahan menjadi hal utama dalam ritual ibadah Israel, sebab tanpa itu tidak akan terjadi hubungan yang baik antara Allah dan manusia. Dosa manusia telah merusak hubungan baik itu. Maka Hari Penebusan atau Hari Pendamaian itu memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan umat. Hari menjadi penting, mengapa? Karena pada hari itu terjadi penebusan bagi semua dosa umat. Hari itu adalah hari satu-satunya di mana Imam Besar secara pribadi mempersembahkan korban. Pada hari-hari biasa pekerjaan itu diserahkan kepada imam-imam bawahan.

 

Tulisan Oleh: Pdt. Nanang
PDFPrintE-mail

Di tengah gunjang-ganjing prahara Polri VS KPK, muncullah beberapa spekulasi pendapat mengenai sosok sang Presiden, Jokowi. Para pengamat politik umumnya berkomentar bahwa sang Presiden sedang gundah-gulana, berada dalam tekanan maha berat sehingga terlihat gamang dalam mengambil keputusan. Seolah menjadi pembenaran bagi para pakar politik ketika sang Presiden menulis status di akun facebook dalam bahasa Jawa, “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti…” Arti kalimat ini teramat dalam.

 

Suro :Keberanian yang ada dalam diri manusia. Manusia dianugerahi Tuhan dengan sifat keberanian, namun jika keberaniaan ini tanpa kendali, akibatnya menjadi destruktif. Manusia berani melakukan kesewenangan dan kejahatan.

 

Diro : Kekuatan, kekuatan yang ada dalam diri manusia bila diberdayakan akan menjadi kekuatan luar biasa, baik kekuatan lahir maupun kekuatan batin.

 

Joyo : Kejayaan. Apabila manusia sudah meraih kesuksesan/kejayaan dan lepas dari kendali nurani, yang terjadi adalah manusia itu menjadi pongah, sombong, angkuh dan jauh dari prinsip moral dan prikemanusiaan.

 

Ningrat : Bergelimang dengan kekayaan dan kenikmatan duniawi. Ningrat bisa juga berarti gelar bangsawan yang hidup dalam menara gading, serba mewah.

 

Lebur : Hancur luluh tak berbekas, sirna atau tunduk menyerah.

 

Dening : Dengan

 

Pangastuti : Kasih sayang, kebaikan.

 

Sederhananya Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti berarti : “Segala sifat keras hati, picik, serakah  dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lemah lembut dan sabar sebagai bentuk nyata dari kasih sayang!

 

Page 1 of 15

 

KUNJUNGI  JUGA  SITUS  :

 

              Logo Ukrida